DIBUANG NAMUN TIDAK TERBUANG

Ia lahir di tengah kemiskinan dan gejolak perang saudara. Penyakit yang mendera lantaran kurang gizi membuatnya tidak berdaya. Kedua orang tuanya sudah putus asa dan siap siap menerima kenyataan pahit, kematian puterinya sudah ada di depan mata. Peti kematian dan upacara pemakamanpun sudah disiapkan. Rasa putus asa dan tidak berdaya telah membuat kedua orang tuanya pasrah dengan keadaan dan berniat membuangnya ke sungai atau memberikan kepada orang yang bersedia mengadopsi dan membiayai pengobatan anaknya. Karena belas kasihan, kedua orang tua angkat membawa bayi yang sekarat itu ke rumah mereka dengan memberikan uang ‘seratus rupiah’ sebagai tanda pengangkatan.

Bendita DeAroujo itulah nama yang diberikan kepadanya oleh orang tua angkatnua. Tentu saja ia berharap bisa hidup lebih baik dan sembuh dari sakit penyalit yang mendera masa kecilnya. Namun sayang, perang saudara telah memkasanya pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Atambua. Meski belum bisa memahami kenyataan yang terjadi, ia masih ingat betapa sulitnya hidup di pengungsian. Hidup serba kekurangan dan menumpang di lahan orang. Rumah dari ilalang bagaikan kandang ayam. Tidur di atas tanah beralas tikar plastik. Kondisi kotor, lapar dan tidak berdaya telah membuat banyak dari teman temannya yang kehilangan nyawa.

Oleh kemurahan Tuhan, aku dan isteriku diberi kesempatan oleh Tuhan mengunjungi camp pengungsian itu 12 tahun yang lalu. Bangunan sederhana dari pelepah lontar itu menjadi saksi awal titik balik kehidupan Bendita. Aku jatuh belas kasihan saat menatap mata anak kecil yang perutnya buncit karena kurang gizi. Akupun menanyakan nama dan umurnya, “Bendita Dearoujo, umur 10 tahun” katanya malu malu. “Maukah kamu tinggal di panti Mercy Indonesia?” Aku bertanya kepadanya. Dia tersenyum lebar dan menjawab “ya saya mau”.

Tahun lalu Bendita tamat dari SMA, ia begitu bersyukur kepada Tuhan, karena selama tinggal di Mercy Indonesia ia bisa sekolah, punya banyak saudara dan bisa mengenal Tuhan Yesus. Rupanya pengalaman hidup di panti asuhan telah menggoreskan kesan yang mendalam dan memunculkan penggilan hidupnya. Minggu lalu aku bertanya kepadanya “apa yang akan kamu lakukan ke depan”? Jawabnya membuatku bangga “bapak, saya akan kembali ke Atambua, mengajar anak anak di Paud Mercy, di desa Maulun.” Akupun melanjutkan “apa kerinduan hatimu saat ini?” Bendita meneteskan air mata, tidak sanggup bicara. Setelah beberapa saat iapun membuka mulutnya dan berkata “saya ingin mencari kedua orang tua yang melahirkan saya. Meski tidak tahu nama mereka, aku rindu memeluk mereka.” Akupun tidak sanggup membendung air mataku.

Malam ini aku bersyukur karena besok akan bertemu dengan Bendita di Atambua, untuk meresmikan sekolahan bagi anak anak eks pengungsi Timor Leste. Dulu ia merasa ditolak atau dibuang namun di Mercy Indonesia ia merasa diterima dan menemukan makna. Dibuang namun tidak merasa terbuang karena telah bertemu Tuhan. Sebagai rasa syukurnya kepada Allah Bendita ingin kembali memberikan hidupnya bagi Allah yang telah menyelamatkan hidupnya. We love you Bendita. The first missionary from Mercy Indonesia.

DEVOTIONAL

109, 2015

DIBUANG NAMUN TIDAK TERBUANG

Ia lahir di tengah kemiskinan dan gejolak perang saudara. Penyakit yang mendera lantaran kurang gizi membuatnya tidak berdaya. Kedua orang tuanya sudah putus asa dan siap siap menerima kenyataan pahit, kematian puterinya sudah ada di […]

3108, 2015

KUASA BELAS KASIHAN

Rasa ‘welas asih’ atau belas kasihan bukanlah sebuah kelemahan, namun sebuah kekuatan yang jauh lebih dasyat dari senjata api, kedudukan, kekuasaan atau ilmu pengetahuan. Mungkin kekuatan yang langsung bisa dirasakan dari belas kasihan adalah perubahan. […]

2508, 2015

KESETIAAN DAN NIKMAT HIDUP

“Sebab itu, setialah kepada istrimu sendiri dan berikanlah cintamu kepada dia saja. Tidak ada gunanya bagimu mencari kenikmatan pada orang yang bukan istrimu. Kenikmatan itu khusus untuk engkau dengan istrimu, tidak dengan orang lain.”

Kitab Amsal […]

“Allah ingin memakai Anda sebagai seorang yang berkemenangan guna membuat suatu perbedaan di dalam dunia ini. Dan Ia ingin mulai hari ini.”
- Paulus Wiratno -
“Jangan pernah terlalu mencintai harta, karena suatu saat Anda akan meninggalkan harta atau harta yang akan meninggakan Anda.”
- Wisdom -
“Keraguan itu sperti uang muka untuk sebuah kegagalan. Mereka yang sering bimbang tidak akan mendapatkan apa apa kecuali penyesalan..”
- Paulus Wiratno -
“Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan.”
- Bible -

NEWS

  • 11060033_10104317854891030_3254711224091108264_n

Terbit buku “The Lepers’ Lessons”

April 10th, 2015|0 Comments

Akan segera terbit buku terbaru minggu depan karya Kevin Paul Scott dan Paulus Wiratno. Kami berharap buku ini “The Lepers’ Lessons” dapat menginspirasi dan memberi dampak bagi semua orang.

  • 11045367_462331650588644_4306902441139103884_o

PELATIHAN USAHA SPPT

March 16th, 2015|0 Comments

Siswa sekolah misi Denpasar dilatih untuk bisa cari makan untuk melayani, bukan melayani untuk cari makan.

  • 10659432_10152761305914157_3077581919406658311_n

KERJA SAMA DENGAN DEPSOS

March 16th, 2015|0 Comments

Tanggal 11 Maret 2015, Departemen sosial telah melakukan kerja sama Yayasan Mercy Indonesia dalam bidang pelayanan sosial.